4 Cara Memutuskan Informasi di Internet Super Penting atau Malah Unfaedah Buat Hidup Kita

Barusan banget sebelum saya menulis di sini, saya mendapatkan sebuah info tentang UFO yang muncul di Indonesia tahun 1975.

Infonya dari sebuah grup di Facebook, ditulis oleh orang yang nggak saya kenal, gambar yang ada di postingan itu pun buram seperti layaknya foto-foto di tahun 1975 (nggak buram-buram amat, tapi juga nggak sejelas foto yang dijepret tahun 2000-an).

Pertanyaannya adalah apa yang harus saya lakukan? Apakah saya masa bodoh atau menyelediki informasi itu benar atau tidak? Ini yang coba saya jawab.

Saya membaca apa yang ditulis oleh mas Tuhu Nugraha di sini. Btw, buat yang belum tahu, mas Tuhu ini adalah seorang digital expert yang status dan tulisannya saya ikuti di Facebook. Di tulisannya kali ini, mas Tuhu berbagi tentang cara memilah informasi di internet, layak dipercaya atau nggak sih?

Namun, menurutku sebelum melakukan pengecekan itu, ada satu pertanyaan lagi yang perlu dijawab:

  • Apakah saya perlu mengecek informasi itu?
  • Atau saya masa bodoh saja dengan informasi itu?
  • Apa syarat-syarat tertentu yang ngebuat saya ngerasa perlu untuk mengecek kebenaran sebuah informasi?

So, tulisan ini saya pikir akan melengkapi tulisan mas Tuhu. Ini semacam prequel dari tulisan mas Tuhu, sebagai pelengkap.

Selamat membaca ya!

 

Banjir Informasi, Bung!

Tanyakan kepada semua orang, mereka akan sepakat bahwa kita hidup di era informasi. Menurut data infragistics.com, terjadi ledakan data pada tahun 2016. Jadi, grafiknya langsung mencuat ke atas tiba-tiba, bukan linear lurus lagi. Orang-orang menyebutnya Big Data Era.

Coba kita lihat gambar. Dari situ terlihat pada 2020, kira-kira data yang ada sekitar 40 ZB (ZetaByte).

Nggak kebayang ya angkanya berapa? mudahnya begini. Jika di rumah kamu ada sebuah harddisk eksternal yang kapasitasnya 1 Terabyte, kamu perlu punya 40 miliar harddisk eksternal (40.000.000.000) supaya bisa nampung data di tahun 2020.

Kalau 1 harddisk ekternal di rumah kamu itu bisa kamu isi dengan 1.000 film yang kapasitasnya masing-masing 1 Gigabyte, kamu bisa download film sampe 40 trilyun film lho (40.000.000.000.000)! Buset, film apa aja itu ya…

Gede banget ya datanya? Itulah dia masalah selanjutnya…

Informasi yang besar banget itu akan membanjir dan masuk ke depan mata kita, berlomba-lomba menarik perhatian kita sebagai pengguna internet.

Hei, lihat aku, aku lagi goyang dombret lho!

Hei, baca aku, artikelku lagi viral lho!

Hei, tonton video kucing yang lucu ini!

Dan seterusnya…

Kita akan lelah setengah mati. Kalau kita tak melakukan seleksi informasi, seolah kita akan merasa punya “kewajiban” untuk meneliti kebenaran cerita-cerita yang masuk ke depan mata kita.

Terus harus gimana?

 

Syarat #1: Informasi itu perlu relevan dengan Tujuanmu

Relevan di sini bisa jadi seperti berikut:

Relevan di karir. Misalnya saya adalah seorang tukang bakmi. Apakah relevan kalau saya menonton video tentang informasi UFO? Nggak relevan dan nggak penting. Yang penting buat saya adalah informasi tentang cara membuat bakmi yang enak.

Relevan di hobi. Katakanlah teman saya sesama tukang bakmi, tapi dia hobi dengan info-info UFO di seluruh dunia. Dia sebenarnya masih merasa 50:50 sih tentang UFO, antara percaya dan tidak. Dia pengen ngelihat UFO tapi belum kesampaian dan dia senang sekali meneliti tentang UFO. Jadi, info tentang UFO relevan buat dia, tapi nggak relevan buat saya.

Relevan di kehidupan sosial. Misalnya, saya adalah anak kuliahan yang baru masuk kampus. Saya mau nyari kenalan baru di kampus. Salah satu cara yang mau saya buat adalah ngajak kenalan dengan orang secara acak di kantin kampus. Topiknya adalah hal aneh di dunia dan salah satunya tentang UFO. Mereka past bakal tertarik! Untuk itu, saya perlu belajar tentang UFO sedikit. Apalagi, ini info UFO di Indonesia! Keren banget, kan…

Relevan di keperluan lain. Bisa apapun itu, tiga contoh di atas cuma mewakili sedikit saja.

Itulah syarat pertama. Dengan mengetahui apa tujuan dan relevansimu, kamu bisa memutuskan untuk mengabaikan atau mulai meneliti sebuah informasi. Kalau nggak relevan, abaikan saja, brother! Kalau nggak, waktumu akan habis.

 

Syarat #2: Informasi di Bidang Expertise Anda, Bermanfaat Untuk Anda, dan Bersifat Problem Solving

Saya berlangganan blog pribadi, website, atau subscribe channel Youtube yang berkaitan dengan digital marketing, content marketing, dan growth hacking. Tentu saja saya berlangganan hanya yang terpercaya dan disajikan secara menarik. Saya lebih tertarik lagi jika itu hasil pemikiran si penulis sendiri berdasarkan hasil eksperimentasi atau observasi.

Itulah poinnya. Di bidang expertise kita, potongan informasi baru yang muncul menurut saya perlu dicek kebenarannya. Jika saya adalah tukang bakmi, saya perlu mengecek resep-resep bakmi yang ada di internet, mana sih yang lebih enak, bakmi dari Beijing atau Bakmi Ajib milik saya?

Kalau mau serius, saya akan cari resep bakmi dari Beijing, saya beli bumbu-bumbunya di pasar. Kalau ada resep yang cuma ada di pedesaan China, saya pesan aja dari toko resep via AliExpress. Saya buat bakmi Beijing di rumah dan saya bandingkan rasanya.

Nanti saya tambah menu di cafe saya: Bakmi Beijing, Bakmi Canada, Bakmi Senegal, dan semacamnya. Jadi, informasi yang perlu kita cek kebenarannya adalah informasi yang kira-kira bakal menimbulkan perubahan kalau kita memutuskan untuk meneliti informasi itu, percaya, dan kemudian mempraktekkannya.

 

Syarat #3: Informasi yang Berkaitan dengan Hal-hal Pribadi atau Orang Terdekat Anda

Misalnya, saya pernah dihubungi lewat nomor asing via chat WhatsApp. Dia mengaku si X dan meminta no HP istri si X. Apa yang saya lakukan? Itu hal pribadi, bukan? Saya kemudian meneleponnya lewat Whatsapp Call, memastikan bahwa memang si X yang menghubungi saya, bukan penipu yang ingin mengerjai istri si X. Kan bisa gawat kalau penipu itu membawa nama saya saat meminta uang ke istri si X?

Atau saya memiliki penyakit hyperhidrosis, yaitu keringat berlebih di wajah. Informasi soal ini sedikit sekali di internet. Saya harus peduli dengan informasi ini dan perlu meneliti dengan cermat mana artikel atau video yang valid tentang cara mengobatinya. Setelah tahu hal-hal yang berkaitan soal penyakit itu, saya juga diskusi ke orang-orang yang memiliki penyakit sama tentang obatnya.

Anda juga begitu. Anda perlu cermat sekali kalau informasi itu berkaitan dengan pribadi Anda. Bukankah itu data yang penting juga?

 

Syarat #4: Informasi yang Sifatnya Good News atau Analisis

Khusus informasi yang ada di internet, saya pribadi membaginya jadi tiga:

  • Good news
  • Bad News
  • Analisis

Iya, saya pribadi menambahkan kategori ketiga, yaitu analisis. Maksudnya apa? Katakanlah ada informasi bahwa bakmi Beijing itu kalau dimakan bikin sakit. Kita cek sedikit.

  • Informasi itu relevan dengan saya yang ceritanya lagi jadi tukang bakmi.
  • Itu sesuai sama expertise saya.
  • Itu mungkin informasi yang sifatnya nggak pribadi, tapi..
  • Informasi itu bermanfaat buat saya dan pencinta bakmi.

Tapi saya nggak akan peduli dengan informasi itu.

Kenapa? Bad news ini sebenarnya sudah sulit dihukumi benar atau tidak. Soalnya informasinya sepotong dan seringkali datanya nggak jelas sama sekali. Jadi, daripada susah-susah meneliti informasi itu, lebih baik saya masa bodoh dan mencari yang lain, yaitu artikel yang sifatnya analisis tentang bakmi Beijing.

Bener nggak sih Bakmi Beijing bisa bikin sakit kalau dimakan? Kalau informasi itu cukup penting di Beijing, ia pasti akan dibahas.

  • Saya akan mencari laporan jurnalistik komprehensif atau deep report tentang isu itu via media China. Nggak, bukan artikel sepotong-sepotong, tapi yang sifatnya deep report. Bisa postingan di website, video laporan, talkshow, dan semacamnya. Nggak ngerti bahasa China? Yha, kan ada Google Translate. Lagipula bisa juga cari yang berbahasa Inggris.
  • Cek jurnal atau media ilmiah populer, siapa tahu ada yang membahas. Kalau itu isu kesehatan yang cukup penting, kalangan ilmuwan pasti meneliti Bakmi Beijing itu. Pusing baca jurnal? Cari deh situs ilmiah populer nya.
  • Cek siapa saja yang punya otoritas atas isu itu (bisa ilmuwan kesehatan, pemerintah setempat dll), kemudian cari sosial media mereka. Biasanya mereka update status pendapat mereka (baik secara pribadi atau pendapat organisasi) tentang kasus itu di sana walau satu-dua kalimat. Kemudian bandingkan. Kalau bisa malah diskusi langsung.

Apakah kasus yang saya angkat terasa lucu-lucuan saja? Itu sekadar contoh saja. Ini juga bisa dipraktekkan untuk isu yang lain. Misalnya, ada yang bilang imunisasi itu tidak boleh karena akan ada efek negatifnya.

Itu isu yang sangat relevan. Itu bukan expertise kita secara umum (kecuali yang bekerja di dunia kesehatan), tapi isu yang sangat penting. Dan itu isu yang sangat pribadi, sebab berkaitan dengan anak-anak kita. Tiap kita toh akan jadi orangtua. Itu juga sudah bukan bad news lagi, tapi sudah jadi isu yang sifatnya penuh analisa.

Apa yang perlu kita lakukan? Kita perlu peduli dan menganalisa itu. Setelah dapat informasinya, bandingkan, diskusikan, dan ambil keputusan.

 

Trivia Tambahan: Gimana dengan Informasi Soal Pilpres?

Yap, saya tahu ini tahun politik. Apalagi tahun 2019 nanti, tentu akan lebih panas. Pakde Jokowi akan menemui rival-rival sebanding untuk maju sebagai calon presiden 2019. Sikap kita gimana dong?

Saya bukan orang yang terjun di politik praktis, tapi saya tahu bahwa politik itu penting. Saya nggak membenci politik praktis dan punya teman-teman yang aktif di beberapa partai. Ada quote yang menarik soal itu:

sumber: https://pastipanji.wordpress.com/2014/03/09/bedakan/

Tapi harus jujur saya katakan, informasi politik praktis alias Pilpres nggak relevan-relevan amat sama diri saya. Pun informasi pilpres nggak bersifat pribadi buat diri saya. Pun nggak terlalu bermanfaat buat saya untuk tahu informasi soal Pilpres. Jadi, saya mengabaikan huru-hara dan perang informasi soal ini. Saya nggak repot-repot menganalisa apakah informasi itu valid atau nggak.

Untuk mendukung itu, saya memperbaiki algoritma sosial media saya. Informasi-informasi yang berkaitan dengan pilpres dan sejenisnya (apalagi yang hina-hinaan tentang bani serbet, pasukan nasi bungkus, kaum onta, IQ 200 sekolam, kaum bumi datar, dan semacamnya), saya blokir semua.

Teman-teman saya yang hina-hinaan soal itu di postingannya, saya hide sementara. Saya isi newsfeed sosial media dengan informasi-informasi yang relevan, penting, sesuai expertise, hobi, dan teman-teman saya.

Lalu gimana cara memilih capres nanti? Cara ini bisa teman-teman pakai. Kalau tidak salah, cara ini juga dipakai oleh Tim Ferris, salah satu internet marketer dunia. Menjelang pemilihan, Tim Ferris biasanya akan berdiskusi dengan beberapa temannya yang expert di dunia politik selama 5-10 menit. Dari situ lah Tim akan menentukan pilihannya.

Tapi bagaimana dengan Anda? Anda nggak harus ikut metode Tim Ferris di atas. Saya juga soalnya nggak ngikut metode dia hahaha. Itu hanya usulan metode yang super simpel supaya Anda tetap bisa fokus sama tujuan Anda, nggak terdistract oleh hal lain.

Apalagi kalau Anda memang orang yang berhubungan langsung sama dunia politik praktis, jelas metode Tim Ferris di atas nggak boleh dilakukan, dong. Tiap orang pada akhirnya akan memakai metode berbeda. Anggap saja metode yang saya ajukan di atas sebagai metode alternatif, bukannya mengajak Anda jadi apatis.

Akhirnya, izinkan saya mengutip Bruce Sterling. Dia berkata begini:

“Information is not power. If information is power, then librarians would be the most powerfull people on the planet”

“Informasi itu bukan kekuatan. Jika informasi adalah kekuatan, maka pustakawan lah yang akan menjadi orang paling berkuasa di planet ini”

Yah, mungkin quote itu setengah jokes saja, tapi saya secara umum setuju. Informasi yang menjadi kekuatan bukanlah semua informasi, tapi informasi yang relevan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *